Rabu, 05 November 2014

SM3T Papua -> Sosialisasi dengan Warga Limarum dan ke Sungai Digul


Masih dengan kisah perjalanan q selama menjadi guru SM3T di kabupaten pegunungan Bintang, Papua. Kali ini saya berbagi cerita ketika pergi ke kampung tetangga dan ke Sungai Digul :)

Minggu, 6 Oktober 2013
Tak terasa sudah satu minggu lebih saya dan teman – teman tinggal di Bulangkop. Kami pun mulai beradaptasi disini. Hari ini kami melakukan sosialisasi dengan kampung tetangga, yaitu kampung Limarum. Pagi hari kami berempat sudah siap,, kebetulan Bapak Remon bendahara dinas pendidikan berkunjung ke kami dari kemarin. Beliau pun juga ikut  ke kampung Limarum sekalian sebagai penunjuk jalan bagi kami.
Perjalanan ke Limarum kurang lebih ditempuh dalam waktu30 menit. Sampai disana kami disambut oleh masyarakat dan siswa yang ada di kampung Limarum. Kami sangat senang bisa diterima oleh masyarakat disini. Salah satu Bapak bahkan ada yang bilang,”Saya berterimakasih ada Bapak Ibu Guru yang datang mengajar di kampung kami, anak – anak sekarang bisa belajar”. Saya merasa miris mendengar kata – kata itu, pendidikan disini memang kalah jauh dengan di jawa, dalam hati saya ingin mengajar mereka dengan sungguh – sungguh. Saya hanya punya waktu satu tahun mengajar siswa disini.
Berhubung sekarang hari Minggu, kami tidak bisa lama – lama di kampung ini, karena semua masyarakatnya beragama Kristen Katolik. Mereka akan pergi beribadah ke Gereja. Gereja yang mereka kunjungi terletak di kampung Bulangkop, tepatnya di samping SMPN Ok'aom.

 Kami pun langsung memutuskan jalan – jalan ke sungai Digul. Karena dari kampung Limarum ini Digul sudah kelihatan dengan jelas. ya...Sungai Digul merupakan salah satu sungai yang terkenal di Papua. Ditengah jalan saya dan teman – teman bertemu 2 siswa SMP yang malas ke gereja. Alele...meskipun dirayu ke Gereja tetap saja tidak mau ni anak. akhirnya mereka pun mengikuti kami ke Sungai Digul. Jalan yang ditempuh lebih banyak menurun. Jalannya licin dan terjal. Ho..ho..ho yang kami pikirkan adalah nanti saat kembali pulang. Mendaki. Ya...tepat sekali, mendaki.Untung saya sudah terbiasa dengan jalan – jalan seperti ini . Asyik - asyik,,hehe.
Ditengah jalan kami berfoto – foto, pemandangan disini sangat bagus. Maklum jarang sekali di Jawa kami menemui pemandangan yang menakjubkan seperti ini kecuali ke daerah gunung. Selesai foto – foto kami melanjutkan perjalanan. Suara sungai Digul mulai terdengar. Jelas saja terdengar, aliran sungai Digul ini sangat deras. Wah...kalau ada sungai seperti ini di Jawa pasti sudah dimanfaatkan sebagai olahraga air arung jeram nich. Hahai... ^_^. Tiba di Digul ada jembatan yang kondisinya sudah rusak dan miring kena hantaman banjir Digul, namun masyarakat masih menggunakan jembatan ini. Saya pribadi terlihat ngeri jika melintas jembatan ini karena belum terbiasa. Akhirnya diantara kami tidak ada yang berani menyeberangi sungai Digul. Kami hanya mencoba meniti jembatan sampai seperempatnya saja. Kami sangat menikmati pemandangan yang disuguhkan di Digul ini. Siswa yang ikut jalan - jalan bersama kami yaitu Agus dan Yanto mencarikan kami tebu dan jeruk asam. Enak sekali makan tebu dalam keadaan dehidrasi dan kecapean. Bapak Hamzah juga ikut mereka sekalian berburu burung, kebetulan di Digul ada siswa kami yang membawa senapan Cis.
                 Puas menikmati pemandangan disini, kami pun pulang ke rumah tercinta, di Aula Sekolah. Dalam perjalanan Ibu Ika dan Ibu Alin kecapean. Hampir pingsan. Saya dan bapak Hamzah bertugas menarik tangan mereka berdua biar tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga. Tiba di rumah saya langsung membuat minuman jeruk yang kami bawa tadi. Kecut sekali rasanya tapi segar diminum dalam cuaca panas.Perjalanan yang menyenangkan. sosialisasi dengan masyarakat sekaligus menikmati keindahan alam disekitar kampung kami tinggal.